Merek-merek Consumer Packaged Goods (CPG) atau fast-moving consumer goods (FMCG) telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari kita. Dari pasta gigi hingga snack favorit, merek-merek ini telah ada selama beberapa dekade. Mereka membangun loyalitas konsumen melalui iklan televisi yang ikonik, billboard besar, dan penempatan produk strategis di supermarket. Namun, di era digital ini, di mana perhatian konsumen beralih ke layar kecil, strategi lama tidak lagi cukup. Banyak merek CPG lama yang kesulitan beradaptasi dengan cara pemasaran baru, terutama pemasaran social-first. Mereka seringkali terjebak dalam pola pikir “iklan” tradisional, yang kurang efektif di platform yang mengutamakan interaksi dan konten otentik.
Tantangan untuk Merek CPG Lama
Merek CPG lama menghadapi beberapa tantangan unik di media sosial.
- Kurangnya Otentisitas: Merek-merek ini terbiasa dengan pesan yang sangat terpoles dan dikendalikan. Namun, di platform seperti TikTok dan Instagram, konten yang berhasil adalah yang terasa otentik, spontan, dan dibuat oleh pengguna.
- Perpindahan Audiens: Target pasar utama mereka, yaitu keluarga dan orang dewasa, semakin aktif di media sosial. Namun, generasi yang lebih muda, seperti Gen Z dan Milenial, yang merupakan konsumen masa depan, membutuhkan pendekatan yang berbeda.
- Ketergantungan pada Iklan Berbayar: Banyak merek yang hanya menggunakan media sosial sebagai saluran lain untuk menayangkan iklan. Mereka tidak membangun komunitas atau berinteraksi secara organik. Ini adalah pendekatan yang mahal dan seringkali tidak efektif.
Mengapa Pemasaran Social-First Adalah Jawabannya?
Pemasaran social-first adalah pendekatan yang menempatkan interaksi, komunitas, dan konten native sebagai prioritas utama. Ini bukan tentang bagaimana mengadaptasi iklan TV ke format video pendek. Ini tentang membuat konten yang dirancang khusus untuk platform tersebut. Ini adalah kunci untuk merek CPG lama agar tetap relevan. Mereka harus belajar dari startup dan merek Direct-to-Consumer (D2C) yang telah menguasai seni ini.
Berikut adalah beberapa langkah praktis yang dapat diambil oleh merek CPG lama untuk menguasai kode pemasaran social-first:
1. Dengarkan dan Berpartisipasi, Jangan Hanya Berbicara
Alih-alih hanya menyiarkan pesan pemasaran satu arah, merek harus secara aktif mendengarkan dan berpartisipasi dalam percakapan. Media sosial adalah tentang dialog. Merek harus merespons komentar, menjawab pertanyaan, dan bahkan bergabung dalam challenge atau meme yang relevan.
Contoh yang bagus adalah bagaimana brand seperti Oreo dan Heinz menggunakan media sosial mereka. Oreo seringkali merespons tren dengan konten yang relevan dan playful. Mereka berhasil membuat brand mereka terasa seperti “teman” dan bukan sekadar perusahaan. Ini menciptakan ikatan emosional yang jauh lebih kuat daripada iklan TV.
2. Pemasaran Influencer: Berkolaborasi dengan Cara Baru
Merek CPG lama terbiasa bekerja dengan selebriti besar dalam iklan televisi. Di media sosial, strategi influencer jauh lebih beragam. Fokus tidak lagi pada influencer dengan jutaan pengikut, tetapi pada influencer mikro dan nano yang memiliki audiens yang sangat terlibat dan niche yang spesifik. Kolaborasi ini seringkali terasa lebih otentik.
Misalnya, sebuah brand saus tomat tidak hanya bisa bekerja dengan chef terkenal, tetapi juga dengan food vlogger rumahan yang memiliki komunitas kecil tapi loyal. Kolaborasi semacam ini menunjukkan bagaimana produk digunakan oleh “orang sungguhan.”
3. Konten Buatan Pengguna (User-Generated Content / UGC) sebagai Mesin Pemasaran
Tidak ada yang lebih otentik daripada konten yang dibuat oleh konsumen itu sendiri. Pemasaran social-first mendorong merek untuk mempromosikan dan merayakan UGC. Merek dapat mengadakan challenge atau kontes. Ini bisa mendorong konsumen untuk membuat konten.
Misalnya, sebuah merek camilan dapat meluncurkan tantangan TikTok di mana orang-orang harus membuat resep kreatif menggunakan produk mereka. Merek seperti Coca-Cola dan Oreo telah berhasil menggunakan UGC. Kampanye “Share a Coke” yang ikonik adalah contoh klasik. Ini menunjukkan bagaimana merek dapat mengubah produk mereka menjadi bagian dari identitas personal konsumen.
4. Berani Bereksperimen dengan Format dan Platform
Merek CPG lama harus keluar dari zona nyaman mereka. Mereka tidak bisa hanya menggunakan Instagram dan Facebook. Mereka harus berani bereksperimen dengan format baru di platform baru seperti TikTok dan YouTube Shorts. Ini berarti berinvestasi dalam video pendek, tutorial cepat, dan konten behind-the-scenes.
Sebuah merek sampo, misalnya, bisa membuat video TikTok aesthetic tentang ritual keramas. Hal ini akan terasa lebih native dibandingkan iklan TV. Ini menunjukkan bahwa pemasaran social-first adalah tentang beradaptasi.
Kesimpulan: Masa Depan Merek CPG Ada di Tangan Konsumen
Mengubah strategi pemasaran dari pendekatan tradisional ke pemasaran social-first adalah sebuah tantangan. Namun, itu adalah sebuah keharusan bagi merek CPG lama untuk tetap relevan. Ini bukan lagi tentang seberapa banyak uang yang dihabiskan untuk iklan, melainkan seberapa baik merek tersebut dapat terhubung dengan audiensnya secara otentik. Dengan mendengarkan konsumen, berkolaborasi dengan influencer, memanfaatkan UGC, dan berani bereksperimen, merek CPG lama dapat menaklukkan media sosial. Mereka dapat membangun komunitas yang loyal, dan memastikan bahwa merek mereka tidak hanya bertahan, tetapi juga berkembang di era digital ini.
Baca juga:
- Kemitraan Dr. Pepper Disney: Strategi Pemasaran Baru di Lapangan College Football
- Depop Perkuat Pasar AS dengan Kampanye ‘Depopelgangers’
- Pengaruh TikTok pada Musik: Kampanye Global dan Dampaknya pada Industri
Informasi ini dipersembahkan oleh Naga Empire

